Skip to main content

Kaya Raya dengan Sedekah

Menjadi kaya raya dengan sedekah serba berkecukupan, hutang piutang menjadi lunas, bisa membeli rumah, mobil, semua materi yang kita inginkan bisa tercapai. Perhatikan Prinsip dasar kebanyakan orang untuk menjadi kaya adalah menabung pangkal kaya, ini konsep yang salah. Menjadi orang yang sangat kaya raya melimpah hartanya apapun yang dia inginkan tercapai adalah dengan cara bersedekah bukan menabung.

Orang yang menabung sibuk dengan tabungannya, bukan bermaksud tidak boleh menabung! Boleh saja. Namun bukan seperti kebanyakan orang yang sudah menabung 1juta kepengen lagi 10 juta, setelah itu 100 juta berlanjut 1 miliar, kalau mempunyai sistem seperti itu akan sulit untuk bersedekah. Karena mempunyai keharusan untuk memenuhi target menabung, sementara bukan menabung yang mendatangkan kekayaan atau harta tetapi sedekahnya.

Apa itu sedekah?

Sedekah (Bahasa Arab:صدقة; transliterasi: sadakah) adalah pemberian seorang Muslim kepada orang lain secara sukarela dan ikhlas tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu. Karena sedekah tidak hanya berarti mengeluarkan atau menyumbangkan harta. Namun sedekah mencakup segala amal atau perbuatan baik.

Kok bisa dengan sedekah kita menjadi kaya?

Seorang muslim harus yakin kepada sang pencipta, dia lah yang maha kaya lagi maha pemberi. Jadi konsep dari Islam adalah bersedakah maka akan diberikan ganjaran dan ganti yang berlipat ganda dari yang maha kaya pemilik alam semesta ini bagi siapa saja yang ia kehendaki.

Kaya Raya dengan Sedekah

Jadi kata kuncinya adalah bersedekah dulu, baru Allah kasih, semakin sempurna sedekah kita semakin sempurna juga balasannya. Semisal kita mau memberi sesuatu kepada orang tua, maka sedekah yang baik dan sempurna adalah jika kita bisa memberi dengan iklas karena Allah dan pemberian yang jika kalian tidak malu memberikannya kepada pemimpin suatu kaum.

Baca: KAYA RAYA DENGAN ALAM BAWAH SADAR

Seandainya anda diundang oleh seorang wali kota secara khusus dan anda disuruh memberikan hadiah berupa buah-buahan apa kah yang akan anda lakukan?

Pastinya kita akan memberikan buah yang berkualitas baik, tidak cacat, dibungkus dengan megah, dll.

Coba bagaimana kalau orang tua anda yang minta di beliin buah-buahan? beli dikaki lima, tidak terlalu melihat kondisi buah, pakek kresek sudah cukup, Yah begitulah.

Jadi semakin baik kualitas pemberian kita maka semakin baik juga balasan dari Allah dan rahasiakan semua sedekah itu. Dan tidak ada dalam cerita orang yang gemar sedekah nasibnya berubah menjadi miskin.

Banyak kisah nyata yang kami temukan dari beberapa sumber tentang keajaiban sedekah ini, Ada seoarang yang menanam buah mangga dan hasil buahnya tidak pernah berhenti karena buahnya selalu disedekahkan.

Kisah ladang pertanian yang selalu di sirami hujan karena hasil panennya 1/3nya selalu disedekahkan.

Kisah seorang yang mensedekahkan semua emas dari hasil usahanya dan hari selanjutnya datang 2peti emas, lalu disedekahkan lagi semua lalu datang lagi 3 peti emas dan sampai gudangnya penuh dengan emas. ini semuanya adalah karena pertolongan Allah.

Jika kita niatkan dengan tulus iklas karena Allah maka Allah pun akan memberikan keajaibannya kepada hamba2nya yang sabar.

Baca: Kunci Sukses dalam Hidup

Namun perlu diperhatikan, rezeki itu bukan hanya datang dari segi materi saja, bisa jadi dengan sedekah kita, musibah tidak jadi menimpa, penyakit tidak jadi datang. Ini salah satu balasan yang kadang tidak kita sadari dari sedekah.

Oleh karena itu jangan hanya berfikiran materi atau uang saja,karena sebanyak apapun uang yang kita miliki tapi kita dalam keadaan yang sakit, uang tidak akan berarti apa. Orang sakit itu mau makan saja susah walau didepannya banyak makanan mewah dan berlimpah.

Kesimpulan

Sedekah adalah pangkal kaya, dengan bersedekah mengharap ridho Allah tulus iklas, Allah pasti akan membalasnya baik berupa pahala, materi yang berlipat-lipat, berupa kesehatan, dll. Muslim harus yakin 100% karena dia lah yang maha kaya dan maha pemberi, oleh karena itu maka hanya kepanyanya lah kita harus berserah diri.


Comments